Sebagai anak pertama, tentunya tidak mungkin aku mempunyai seorang kakak. Kalau kakak kandung ya itu tidak mungkin, namun kakak – kakak dalam pengertian yang lain tentunya itu bukan hal yang mustahil.
Meskipun kakak kandung aku tidak punya, namun kakak-kakak yang lain yang mempengaruhi jalan hidupku sampai sekarang memang banyak sekali. Namun paling tidak ada 2 orang kakak yang paling berperan dalam menentukan perjalanan hidupku. Meskipun mereka berdua berada di tempat yang jauh-jauh, namun esensi dari kekakak-an mereka masih kurasakan. Masing-masing dari mereka mengajarkan banyak hal kepadaku, baik yang terkait dengan dunia materiil maupun dunia non-materiil.
Kakakku yang pertama adalah kakakku yang kutemui sejak awal aku di Jogja (8 tahun yang lalu). Dia adalah seorang kakak yang tidak pernah kupanggil dengan kak atau mas atau kang bahkan cak (panggilan khas jawatimuran)…. Dia lebih sering kupanggil dengan panggilan bos….., ya itu yang membuat hubungan lebih akrab. Dia mengajarkan banyak hal, baik yang langsung dari ucapannya, maupun apa yang dilakukannya, serta apa yang dialaminya. Dari kebersamaanku selama 7 tahun ( sebelum terpisah jarak) telah banyak hal yang kudapat dan tak dapat kulupakan bahkan sebagian besar mempengaruhi hidupku sampai sekarang. Kakakku ini mengajarkan banyak hal, diantarannya Bagaimana memandang masa depan, bagaimana memikirkan segala kemungkinan peluang, bagaimana memanfaatkan segala potensi, bagaimana berpikiran maju, bagaimana menghargai diri dan orang lain, bagaimana bersifat profesionalitas, sampai bagaimana berpikir parallel dan antisipatif, dan apa itu kebebasan berpikir. Dia juga mengajarkan persaudaraan, kesetiaan, berbagi dengan orang lain, keiklasan, kepercayaan, dan masih banyak lagi….
Kakakku yang kedua adalah seorang wanita yang tegar dan hebat yang selalu memikirkan kepentingan orang lain, sehingga terkadang lupa akan dirinya. Kakakku ini lebih banyak mengajarkan hal-hal yang terkait dengan nilai-nilai fundamental kemanusiaan, kehambaan pada Allah, dan pemahaman yang sangat mendasar tentang keberadaan “dunia lain”. Nilai yang paling berkesan dari pribadinya adalah kesabarannya yang luar biasa. Bagaimana dia bersabar atas penyakit kangker rahim yang dia derita selama ini, bagaimana dia bersabar atas kedzoliman orang lain yang selalu dan selalu ingin menyakiti bahkan membunuhdirinya (baik fisik maupun hati), dia tidak pernah dendam sedikitpun. Nilai keihklasan diajarkannya melalui bagaimana dia menolong orang lain yang tanpa pamrih, tanpa hitungan, dan terkadang sampai mengorbankan kepentingannya. Dia pernah bilang padaku “ Ndik, kalau nolong orang jangan setengah-setengah…”. Dia merupakan seseorang yang mempunyai kelebihan dengan indra keenamnya, sehingga hal inilah yang mengajarkan aku banyak hal tentang pemahamanku “ dunia lain”. Dan hal ini juga yang merubah perspektifku terhadap “dunia lain”, sehingga aku lebih menghormati dan menghargai kehadiran mereka.
Keduanya adalah kakak-kakakku yang banyak membentuk karakterku sampai saat ini, meskipun diantara aku dan mereka tidak berdekatan……… tapi kehadiran mereka tetap kurasa. Terima kasih kakak-kakakku atas segala yang kalian beri, bimbingannya, tanpa kalian diriku bukan andik yang sekarang …… dan maafkan aku selama ini, mungkin aku seringkali “manja”, ingin perhatian, nakal, dan buanyak merepotkan.
Semoga hubungan ini kekal……. Dan kita semua diberikan masa depan yang lebih baik… amin.
Betulll kak?